7 Cara Menghadapi Teman Kerja yang Licik Tanpa Ikut Terjebak

Cara menghadapi teman kerja yang licik memang tidak selalu mudah, apalagi ketika perilakunya mulai mengganggu pekerjaan, hubungan dengan rekan lain, atau bahkan reputasi kita di kantor. Namun, menghadapi rekan kerja yang dianggap licik tidak berarti kita harus membalas dengan cara yang sama. Ada cara yang lebih aman dan profesional untuk menghadapi situasi tersebut.

“Pak, saya bingung harus bagaimana.” Andra terlihat kesal ketika menemui Pak Adi di ruangannya.
“Ada apa?”
“Beberapa minggu ini saya merasa ada yang aneh dengan Bimo. Waktu pekerjaan saya berhasil, dia ikut menyampaikan ke Pak Arif seolah-olah dia yang membantu dari awal. Tapi ketika ada masalah, nama saya yang disebut.”
Pak Adi tidak langsung menjawab. “Sudah kamu pastikan bahwa itu memang disengaja?”
Andra terdiam. “Belum.”
“Kalau begitu, jangan mulai dari tuduhan. Mulai dari fakta.”

Nasihat itu sederhana, tetapi penting. Sebab ketika kita merasa seseorang sedang bermain di belakang kita, emosi bisa membuat kita ingin segera membalas. Padahal, dalam situasi seperti ini, reaksi spontan justru bisa merugikan diri sendiri.
Di tempat kerja, kita akan bertemu berbagai karakter. Ada yang terbuka, ada yang sangat kompetitif, ada yang pandai bernegosiasi, dan ada pula yang cara bermainnya membuat kita merasa tidak nyaman.
Karena itu, cara menghadapi teman kerja yang licik bukan tentang mencari cara untuk mengalahkan orang tersebut.
Yang lebih penting adalah bagaimana melindungi pekerjaan, menjaga komunikasi, dan memastikan kita tidak ikut terseret ke dalam permainan yang sama.

Apa yang Dimaksud dengan Teman Kerja yang Licik?

Sebelum membahas cara menghadapi teman kerja yang licik, kita perlu berhati-hati dengan penggunaan kata licik.

Tidak semua orang yang ambisius adalah licik.
Tidak semua orang yang pandai bernegosiasi sedang memanipulasi kita.
Tidak semua orang yang ingin mendapatkan pengakuan sedang berusaha menjatuhkan orang lain.
Yang perlu diperhatikan adalah perilaku konkret dan polanya.

Misalnya, seseorang berulang kali:

  • mengambil keuntungan atas pekerjaan orang lain,
  • melempar kesalahan kepada rekan kerja,
  • menyembunyikan informasi yang sebenarnya dibutuhkan tim,
  • mengatakan hal yang berbeda kepada orang yang berbeda,
  • memutarbalikkan informasi,
  • atau sengaja membuat rekan kerja terlihat buruk di depan atasan.

Jika perilaku tersebut terjadi berulang dan berdampak terhadap pekerjaan, kita perlu mengambil langkah yang lebih hati-hati. Bukan dengan membalas. Tetapi dengan memperkuat posisi kita secara profesional.

Cara Menghadapi Teman Kerja yang Licik

1. Jangan Langsung Membalas dengan Cara yang Sama

Ini adalah langkah pertama dalam cara menghadapi teman kerja yang licik.
Ketika seseorang mencoba menjatuhkan kita, godaan terbesar adalah melakukan hal yang sama.
Dia membicarakan kita di belakang? Kita ingin membicarakannya juga.
Dia mengambil keuntungan? Kita ingin membongkar semua kesalahannya.
Dia membuat kita terlihat buruk? Kita ingin membuat dia terlihat lebih buruk.
Masalahnya, kita akhirnya masuk ke dalam permainan yang sama.
Alih-alih mendapatkan solusi, konflik menjadi semakin besar.

Pak Adi pernah mengatakan kepada Andra:

“Kalau orang lain bermain kotor, bukan berarti kamu harus ikut kotor.”

Tetap profesional bukan berarti kita membiarkan diri dimanfaatkan.
Kita tetap bisa melindungi diri tanpa membalas dengan perilaku yang sama.

2. Pastikan Fakta Sebelum Menuduh

Salah satu cara menghadapi teman kerja yang licik yang sering dilupakan adalah memastikan fakta.
Misalnya, kamu mendengar bahwa seorang rekan kerja mengatakan sesuatu tentang dirimu.
Jangan langsung datang dan berkata: “Saya tahu kamu menjelek-jelekkan saya.”
Tanyakan terlebih dahulu:

  • Apa yang sebenarnya dikatakan?
  • Siapa yang menyampaikannya?
  • Apakah ada bukti?
  • Apa konteks pembicaraannya?
  • Apakah informasi tersebut lengkap?

Mengapa ini penting?
Karena informasi yang berpindah dari satu orang ke orang lain dapat berubah.
Kalimat yang awalnya netral bisa terdengar berbeda ketika sudah diceritakan kembali.
Jika kita langsung menuduh tanpa fakta, justru kita bisa terlihat sebagai pihak yang menciptakan konflik.

Jangan bertindak berdasarkan asumsi ketika fakta masih bisa diperiksa.

3. Dokumentasikan Komunikasi Penting

Kalau kamu mulai melihat pola perilaku yang merugikan, dokumentasi bisa menjadi perlindungan yang sangat penting.
Ini salah satu cara menghadapi teman kerja yang licik secara profesional.
Misalnya, setelah meeting kamu mendapatkan tugas tertentu.
Daripada hanya mengandalkan percakapan lisan, kamu bisa mengirim pesan:

“Untuk memastikan tidak ada yang terlewat, saya rangkum hasil meeting tadi. Saya akan menangani bagian A dan B, sedangkan bagian C akan dikerjakan oleh Andra. Deadline kita Jumat, ya.”

Dengan begitu, pembagian pekerjaan menjadi jelas. Begitu pula ketika menerima instruksi penting.

Simpan:

  • email,
  • chat pekerjaan,
  • file,
  • revisi,
  • deadline,
  • hasil pekerjaan,
  • dan keputusan meeting.

Tujuannya bukan untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Dokumentasi membantu menciptakan jejak komunikasi yang jelas.
Jika suatu hari muncul perbedaan informasi, kita tidak perlu berdebat berdasarkan ingatan masing-masing.
Kita bisa kembali melihat apa yang sebenarnya telah disepakati.

4. Pastikan Kontribusimu Terlihat Tanpa Menjatuhkan Orang Lain

Andra merasa Bimo sering mengambil kredit atas pekerjaannya.
Maya kemudian memberikan saran, “Kalau begitu, jangan menunggu sampai orang lain menjelaskan pekerjaanmu kepada atasan.”

Maksudnya bukan Andra harus berkata:

“Pak, sebenarnya Bimo tidak mengerjakan apa-apa.”

Sebaliknya, Andra dapat menyampaikan perkembangan pekerjaan secara profesional.

Misalnya:

“Update untuk proyek ini: analisis data sudah saya selesaikan hari Selasa. Bimo kemudian membantu saya melakukan review pada bagian X.”

Kalimat tersebut melakukan dua hal:
Pertama, menjelaskan kontribusi Andra.
Kedua, tetap memberikan pengakuan kepada Bimo jika memang ada kontribusinya.

Inilah cara menghadapi teman kerja yang licik tanpa ikut menjatuhkan orang lain.

Jangan sibuk membangun citra dengan merusak citra orang lain.
Bangun reputasi melalui pekerjaan yang jelas dan komunikasi yang transparan.

5. Jangan Memberikan Informasi Pribadi atau Informasi Sensitif Sembarangan

Orang yang kita anggap tidak dapat dipercaya tidak harus mengetahui semua hal tentang kita.
Ini bukan berarti kita harus menjadi paranoid. Tetapi kita perlu memahami batas profesional.
Jika sebuah informasi tidak berkaitan dengan pekerjaan, kita tidak selalu perlu membagikannya.
Begitu pula dengan informasi internal yang memang hanya boleh diketahui oleh pihak tertentu.

Salah satu cara menghadapi teman kerja yang licik adalah berhati-hati dalam memilih informasi apa yang kita sampaikan, kepada siapa, dan melalui media apa.
Tetap ramah.
Tetap bekerja sama.
Tetapi jangan menganggap semua hubungan di kantor harus menjadi hubungan pribadi.

Profesional bukan berarti tertutup. Profesional berarti tahu batas.

6. Gunakan Komunikasi yang Tegas dan Terukur

Ketika menghadapi rekan kerja yang sulit, kita mungkin ingin berbicara panjang lebar untuk menjelaskan posisi kita.
Namun, semakin emosional situasinya, semakin penting untuk menjaga komunikasi tetap singkat, jelas, dan berdasarkan fakta.

Misalnya, jika seseorang mengatakan:

“Kamu yang membuat pekerjaan ini terlambat.”

Jangan langsung menjawab:

“Kamu jangan bohong! Kamu sendiri yang tidak memberikan datanya!”

Coba:

“Saya ingin meluruskan timeline-nya. Data yang saya perlukan baru saya terima hari Rabu pukul 14.00, sedangkan deadline awalnya Selasa. Ini bukti komunikasinya.”

Tidak ada penghinaan.
Tidak ada serangan pribadi.
Tetapi posisi kita jelas.
Inilah salah satu bentuk cara menghadapi teman kerja yang licik dengan komunikasi asertif.
Kita tidak perlu berbicara lebih keras untuk membuat fakta terdengar lebih kuat.

7. Kenali Pola Perilaku, tetapi Jangan Menggunakannya untuk Membenarkan Sikap Buruk

Ada satu hal lagi yang dapat membantu kita memahami orang lain: gaya perilaku.
Di tempat kerja, setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda.
Ada yang sangat berorientasi pada hasil.
Ada yang sangat ekspresif dan mudah membangun relasi.
Ada yang lebih tenang dan mengutamakan keharmonisan.
Ada pula yang sangat teliti dan berorientasi pada aturan serta data.

Pendekatan DISC dapat membantu kita memahami kecenderungan perilaku tersebut.

Namun, ada hal yang perlu digarisbawahi. DISC bukan alat untuk menentukan seseorang licik atau tidak.
Kita tidak bisa mengatakan:

“Dia tipe D, jadi memang licik.”

Itu keliru. Gaya perilaku tidak sama dengan moralitas. Orang dengan gaya perilaku apa pun dapat bersikap jujur atau tidak jujur. DISC lebih berguna untuk membantu kita memahami bagaimana seseorang cenderung berkomunikasi, mengambil keputusan, dan merespons situasi. Pemahaman ini dapat membantu kita menyesuaikan cara berkomunikasi tanpa kehilangan batasan.

Dan sebelum sibuk membaca orang lain, kita juga perlu mengenali diri sendiri.

Jangan Sampai Kita Ikut Menjadi Licik

Ada satu jebakan ketika membahas cara menghadapi teman kerja yang licik.
Kita terlalu fokus pada perilaku orang tersebut sampai lupa mengevaluasi perilaku kita sendiri.
Ketika seseorang membuat kita kesal, kita mungkin mulai:

  • membalas sindiran,
  • menyebarkan cerita tentangnya,
  • sengaja menahan informasi,
  • mencari kesalahannya,
  • atau mencoba membuatnya terlihat buruk.

Tanpa sadar, kita melakukan hal yang sama.

Maya pernah mengatakan:

“Kamu tidak bisa memilih bagaimana orang lain bersikap. Tapi kamu bisa memilih karakter seperti apa yang ingin kamu pertahankan.”

Itu sebabnya tujuan cara menghadapi teman kerja yang licik bukan untuk memenangkan permainan kantor.
Tujuannya adalah keluar dari situasi tersebut tanpa kehilangan profesionalitas dan integritas kita.

Kapan Harus Melibatkan Atasan atau HR?

Tidak semua konflik harus langsung dibawa kepada atasan. Namun, jika perilaku seseorang sudah:

  • merugikan pekerjaan,
  • menghambat tanggung jawab,
  • merusak reputasi secara serius,
  • melibatkan intimidasi,
  • berupa pelecehan,
  • atau terjadi berulang meskipun sudah dicoba diselesaikan secara profesional,

maka kita tidak harus menghadapinya sendirian. Gunakan jalur yang tersedia di organisasi.

Saat berbicara dengan atasan, hindari:

“Dia orangnya licik banget.”

Lebih baik jelaskan:

“Dalam tiga kesempatan terakhir, pembagian tugas yang disepakati berubah ketika dilaporkan kepada atasan. Saya memiliki dokumentasi komunikasi untuk masing-masing kejadian.”

Fakta lebih kuat daripada label.

Kenali Diri Sebelum Menghadapi Orang Lain

Menariknya, konflik dengan rekan kerja sering membuat kita lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada diri sendiri.
Kita bertanya: “Kenapa dia seperti itu?”
Tetapi jarang bertanya: “Bagaimana saya biasanya merespons konflik?”
Apakah kita cenderung langsung melawan?
Apakah kita memilih diam?
Apakah kita terlalu mudah percaya?
Apakah kita sulit mengatakan tidak?
Apakah kita menghindari percakapan yang sulit?
Atau apakah kita justru mudah terpancing ketika merasa diperlakukan tidak adil?

Mengenali kecenderungan diri dapat membantu kita menentukan respons yang lebih tepat.

Jika kamu ingin memahami kecenderungan gaya perilakumu, kamu bisa mencoba Asesmen DISC Amazing Plus.
Dengan mengetahui gaya perilaku diri, kita bisa lebih memahami bagaimana kita berkomunikasi, mengambil keputusan, menghadapi tekanan, dan bekerja sama dengan orang lain.

Kenali gaya perilakumu melalui Asesmen DISC Amazing Plus di sini.

Ubah Cara Bicaramu, Ubah Cara Kamu Menghadapi Konflik

Pada akhirnya, cara menghadapi teman kerja yang licik tidak hanya membutuhkan strategi, tetapi juga kemampuan berkomunikasi.

Kita perlu tahu kapan harus diam.
Kapan harus bertanya.
Kapan harus meluruskan.
Kapan harus mengatakan tidak.
Dan kapan harus membawa masalah kepada pihak yang lebih berwenang.

Cara kita menyampaikan semuanya akan menentukan bagaimana pesan tersebut diterima.

Bandingkan: “Kamu jangan coba-coba menjatuhkan saya.”
dengan: “Saya ingin memastikan informasi yang disampaikan sesuai dengan pembagian tugas yang sudah kita sepakati.”

Keduanya menunjukkan bahwa kita tidak menerima perlakuan tersebut. Namun, kalimat kedua jauh lebih sulit digunakan untuk memancing konflik.

Kalau kamu ingin belajar lebih jauh bagaimana menggunakan kata-kata dengan lebih sadar, menyampaikan pendapat tanpa menyerang, dan membangun komunikasi yang lebih baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, kamu bisa melanjutkannya melalui ebook Ubah Bicaramu, Ubah Rezekimu dari Amazing Plus yang bisa diunduh dengan gratis.

Karena terkadang, perubahan dalam pekerjaan bukan dimulai dari mengubah orang lain.

Perubahan dimulai dari bagaimana kita memilih kata, mengelola respons, dan membangun cara berkomunikasi yang lebih baik.

👉 Pelajari Ebook Ubah Bicaramu, Ubah Rezekimu di sini.

Kesimpulan

Menghadapi teman kerja yang kita anggap licik memang menguras energi. Namun, kita tidak perlu membalas perilaku tersebut dengan cara yang sama.

Cara menghadapi teman kerja yang licik dapat dimulai dengan memastikan fakta, menjaga komunikasi tetap profesional, mendokumentasikan pekerjaan, membuat batasan, dan memastikan kontribusi kita terlihat dengan cara yang sehat.
Jika masalah sudah serius, jangan ragu menggunakan jalur resmi yang tersedia di tempat kerja.
Dan yang paling penting, jangan sampai perilaku orang lain mengubah kita menjadi seseorang yang sebenarnya tidak ingin kita menjadi.

Kita mungkin tidak bisa mengendalikan cara orang lain bermain. Tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana kita bermain dengan cara kita sendiri: jujur, profesional, tegas, dan tetap menghargai orang lain.

Baca juga:

Share postingan ini:

Baca Insight & Wawasan Lainnya

Tes kepribadian DISC dan jawabannya

7 Hal tentang Tes Kepribadian DISC dan Jawabannya yang Perlu Kamu Ketahui

Tes kepribadian DISC online

7 Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih Tes Kepribadian DISC Online

tes kepribadian DISC online gratis

7 Alasan Mengikuti Tes Kepribadian DISC Online Gratis untuk Mengenali Diri