7 Pertimbangan Memilih Pelatihan Marketing Communication untuk Tim Perusahaan

Pelatihan marketing communication menjadi salah satu pilihan pengembangan kompetensi ketika perusahaan ingin meningkatkan kemampuan tim dalam menyampaikan pesan kepada pelanggan secara lebih efektif. Namun, memilih program pelatihan tidak cukup hanya dengan melihat judul, jumlah materi, atau durasi training.

Program yang terlihat menarik belum tentu sesuai dengan tantangan yang dihadapi tim marketing. Karena itu, perusahaan perlu mengetahui apa saja yang harus diperhatikan sebelum menentukan pelatihan marketing communication yang tepat. Dengan mempertimbangkan beberapa aspek berikut, perusahaan dapat memilih program yang bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu peserta menerapkan kemampuan komunikasi dalam pekerjaan sehari-hari.

Apa Itu Marketing Communication?

Marketing communication atau komunikasi pemasaran merupakan proses menyampaikan pesan perusahaan kepada target audiens melalui berbagai bentuk dan channel komunikasi. Komunikasi tersebut dapat muncul dalam berbagai aktivitas, mulai dari iklan, media sosial, content marketing, email marketing, public relations, hingga komunikasi langsung dengan pelanggan. Artinya, kemampuan marketing communication tidak hanya berkaitan dengan bagaimana membuat pesan yang menarik. Tim juga perlu memahami siapa audiensnya, apa pesan yang ingin disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, dan melalui channel apa pesan tersebut akan diterima.

Inilah alasan mengapa perusahaan perlu lebih selektif ketika memilih pelatihan marketing communication untuk timnya.

7 Pertimbangan Memilih Pelatihan Marketing Communication

Berikut beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan perusahaan sebelum menentukan program pelatihan marketing communication.

1. Pilih Pelatihan Marketing Communication yang Relevan dengan Tantangan Bisnis

Perusahaan sebaiknya tidak hanya melihat apakah sebuah pelatihan marketing communication memiliki materi yang lengkap. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah materi tersebut relevan dengan tantangan yang dihadapi tim? Misalnya, tim marketing sudah rutin membuat konten tetapi pesan brand belum konsisten. Atau tim mampu membuat materi promosi, tetapi belum memahami bagaimana menyesuaikan pesan dengan karakter target audiens. Ada pula perusahaan yang memiliki banyak channel komunikasi, tetapi pesan yang disampaikan melalui media sosial, website, email, dan komunikasi langsung belum terintegrasi dengan baik. Situasi seperti ini membutuhkan pelatihan yang mampu menghubungkan konsep marketing communication dengan persoalan nyata di dunia kerja.
Karena itu, saat membandingkan pelatihan marketing communication, perhatikan apakah program tersebut membahas:

  • pemahaman terhadap target audiens;
  • penyusunan pesan komunikasi;
  • pemilihan channel yang tepat;
  • konsistensi komunikasi brand;
  • penerapan komunikasi dalam situasi bisnis nyata.

Pelatihan yang baik bukan hanya membuat peserta tahu lebih banyak, tetapi membantu mereka memahami bagaimana pengetahuan tersebut digunakan dalam pekerjaan.

2. Pertimbangkan Pengalaman Praktis Trainer

Materi yang bagus akan lebih mudah dipahami ketika disampaikan oleh trainer yang mampu menghubungkan teori dengan praktik. Karena itu, pengalaman trainer menjadi salah satu pertimbangan penting ketika memilih pelatihan marketing communication. Perusahaan dapat melihat latar belakang, pengalaman profesional, bidang yang dikuasai, serta pengalaman trainer dalam menangani kebutuhan pengembangan kompetensi. Trainer yang memiliki pengalaman praktis biasanya dapat memberikan contoh yang lebih dekat dengan situasi yang mungkin dihadapi peserta. Misalnya, ketika membahas komunikasi dengan pelanggan, peserta tidak hanya mendapatkan definisi atau konsep, tetapi juga dapat mempelajari bagaimana sebuah pesan sebaiknya disusun ketika menghadapi karakter audiens yang berbeda.

Di Amazing Plus, pendekatan pengembangan kompetensi dapat menghubungkan materi dengan situasi yang dihadapi peserta dalam lingkungan kerja. Hal ini penting karena marketing communication bukan sekadar kemampuan memahami teori, melainkan kemampuan mengubah strategi menjadi komunikasi yang dapat dipahami dan diterima audiens.

3. Cari Pelatihan yang Memberikan Praktik dan Studi Kasus

Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika memilih pelatihan marketing communication adalah metode pembelajarannya. Training yang hanya berisi presentasi dan teori dapat membuat peserta memahami konsep, tetapi belum tentu membuat mereka siap menerapkannya.
Karena itu, perusahaan sebaiknya mempertimbangkan program yang memberikan ruang untuk:

  • studi kasus;
  • diskusi kelompok;
  • simulasi;
  • latihan menyusun pesan;
  • analisis komunikasi;
  • role play;
  • atau praktik berdasarkan situasi pekerjaan.

Misalnya, peserta diminta menganalisis sebuah kampanye marketing dan menentukan apakah pesan yang digunakan sudah sesuai dengan target audiens. Dalam lingkungan Amazing Plus, pendekatan seperti ini juga dapat dibuat lebih dekat dengan situasi pekerjaan melalui karakter-karakter dalam Amazing Plus Universe. Misalnya, Andi dari tim Marketing memiliki pendekatan yang kreatif, sementara Siska lebih terstruktur. Perbedaan cara berpikir tersebut dapat menjadi contoh bahwa komunikasi marketing membutuhkan kreativitas sekaligus struktur.

Semakin banyak kesempatan untuk berlatih, semakin besar peluang peserta mengubah materi pelatihan menjadi kemampuan yang dapat digunakan.

4. Pastikan Materi Membahas Audiens, Pesan, dan Channel

Marketing communication tidak dapat dipisahkan dari tiga pertanyaan utama:

Siapa yang ingin kita ajak berkomunikasi?
Pesan apa yang ingin kita sampaikan?
Bagaimana pesan tersebut akan disampaikan?

Karena itu, perusahaan sebaiknya memastikan pelatihan marketing communication tidak hanya membahas cara membuat materi promosi. Peserta juga perlu memahami bagaimana karakter audiens memengaruhi cara komunikasi. Pesan untuk pelanggan baru tentu dapat berbeda dengan pesan untuk pelanggan lama. Begitu pula komunikasi melalui Instagram dapat membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan email atau komunikasi langsung. Program yang membahas hubungan antara audiens, pesan, dan channel akan membantu peserta melihat marketing communication sebagai sebuah sistem, bukan aktivitas yang berdiri sendiri. Hal ini semakin penting ketika perusahaan menggunakan banyak platform untuk berkomunikasi dengan pelanggan.

Komunikasi yang Efektif Dimulai dari Cara Berbicara

Memahami audiens, menyusun pesan, dan memilih channel memang penting dalam pelatihan marketing communication. Namun, ada satu kemampuan dasar yang sering luput diperhatikan: cara menyampaikan pesan itu sendiri.
Pesan yang sebenarnya bagus bisa kehilangan dampaknya ketika disampaikan dengan pilihan kata yang kurang tepat, terlalu berbelit, atau tidak disesuaikan dengan lawan bicara. Karena itu, kemampuan komunikasi perlu terus dilatih, bukan hanya dalam konteks marketing, tetapi juga dalam interaksi profesional sehari-hari.

Hal inilah yang menjadi salah satu gagasan dalam ebook Ubah Bicaramu, Ubah Rezekimu dari Amazing Plus. Ebook ini mengajak pembaca melihat bahwa cara berbicara bukan sekadar soal menyampaikan kata-kata, tetapi juga bagaimana komunikasi dapat memengaruhi hubungan, kepercayaan, dan peluang yang muncul dalam kehidupan profesional.

Kalau Anda ingin mulai mengevaluasi cara berkomunikasi dan membangun kebiasaan berbicara yang lebih efektif, ebook Ubah Bicaramu, Ubah Rezekimu bisa menjadi bacaan pendamping yang relevan. Ebook tersebut bisa diakses dengan gratis di sini.

5. Utamakan Program yang Dapat Disesuaikan dengan Konteks Perusahaan

Setiap perusahaan memiliki produk, pelanggan, budaya kerja, dan tantangan komunikasi yang berbeda. Karena itu, perusahaan dapat mempertimbangkan pelatihan marketing communication yang memiliki fleksibilitas dalam penerapan materi. Contohnya, studi kasus untuk perusahaan B2B tentu dapat berbeda dengan perusahaan yang menjual produk langsung kepada konsumen. Begitu juga kebutuhan tim marketing perusahaan teknologi bisa berbeda dengan perusahaan retail, manufaktur, pendidikan, maupun jasa. Fleksibilitas tidak selalu berarti seluruh materi harus diubah. Yang lebih penting adalah bagaimana konsep yang dipelajari dapat dikaitkan dengan konteks pekerjaan peserta.

Pelatihan yang terasa dekat dengan pekerjaan akan lebih mudah dipahami karena peserta dapat langsung melihat hubungan antara materi dan aktivitas yang mereka lakukan sehari-hari.

6. Perhatikan Penerapan Setelah Pelatihan

Salah satu kesalahan dalam memilih pelatihan marketing communication adalah hanya memperhatikan apa yang terjadi selama training. Padahal, keberhasilan pelatihan tidak berhenti ketika sesi terakhir selesai. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan bagaimana peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh setelah kembali bekerja. Misalnya, setelah mengikuti training, peserta dapat diarahkan untuk:

  • mengevaluasi cara komunikasi yang selama ini digunakan;
  • memperbaiki penyusunan pesan;
  • membuat rencana komunikasi;
  • melakukan evaluasi terhadap campaign;
  • atau menerapkan teknik komunikasi tertentu dalam pekerjaan.

Dalam konteks ini, pelatihan sebaiknya tidak dipandang sebagai kegiatan satu hari semata. Training merupakan bagian dari proses pengembangan kemampuan. Semakin jelas hubungan antara materi pelatihan dan penerapannya di tempat kerja, semakin besar peluang manfaat training dapat dirasakan dalam jangka lebih panjang.

7. Tentukan Indikator Keberhasilan Sebelum Memilih Pelatihan

Pertimbangan terakhir yang sering terlupakan adalah bagaimana perusahaan menentukan apakah pelatihan tersebut berhasil atau tidak. Jangan hanya menggunakan indikator: “Peserta sudah mengikuti training.”
Kehadiran peserta menunjukkan bahwa training telah dilaksanakan, tetapi belum menunjukkan bahwa kompetensi peserta mengalami perkembangan. Karena itu, penting sekali sebelum memilih pelatihan marketing communication, perusahaan menentukan indikator yang ingin dicapai.

Misalnya:

  • peserta lebih mampu menyusun pesan yang sesuai dengan target audiens;
  • komunikasi brand menjadi lebih konsisten;
  • peserta mampu memilih channel komunikasi secara lebih strategis;
  • kemampuan menyampaikan pesan meningkat;
  • atau peserta mampu menerapkan teknik yang dipelajari dalam pekerjaan.

Dengan indikator yang jelas, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk mengevaluasi manfaat pelatihan marketing communication setelah program selesai.

Jangan Hanya Membandingkan Materi Pelatihan

Ketika mencari pelatihan marketing communication, perusahaan mungkin menemukan banyak pilihan dengan materi yang terlihat hampir sama. Namun, jangan hanya membandingkan daftar materi. Dua program dapat sama-sama membahas komunikasi pemasaran, tetapi memiliki pengalaman belajar yang berbeda.
Perhatikan juga:

Siapa trainernya?
Bagaimana metode pembelajarannya?
Apakah ada praktik?
Apakah studi kasusnya relevan?
Apakah materi dapat dikaitkan dengan situasi pekerjaan?
Bagaimana peserta akan menerapkan hasil training setelahnya?

Dengan melihat aspek-aspek tersebut, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih objektif dan tidak hanya memilih berdasarkan judul atau jumlah materi.

pelatihan marketing communication
pelatihan marketing communication

Kapan Perusahaan Membutuhkan Pelatihan Marketing Communication?

Tidak harus menunggu sampai performa marketing menurun untuk mulai mempertimbangkan pelatihan marketing communication. Program pengembangan kompetensi dapat dipertimbangkan ketika perusahaan menghadapi situasi seperti:

  1. Pesan marketing belum konsisten di berbagai channel.
  2. Tim kesulitan memahami target audiens.
  3. Komunikasi antaranggota tim marketing belum terintegrasi.
  4. Campaign sudah berjalan, tetapi pesan yang disampaikan belum efektif.
  5. Tim membutuhkan kemampuan komunikasi yang lebih strategis.
  6. Perusahaan sedang melakukan perubahan strategi atau positioning brand.
  7. Ada kebutuhan meningkatkan kompetensi tim marketing secara bersama-sama.

Dalam kondisi tersebut, pelatihan dapat menjadi salah satu cara untuk membantu tim membangun pemahaman dan kemampuan yang lebih seragam.

Bagaimana Memilih Pelatihan Marketing Communication yang Tepat?

Pada akhirnya, memilih pelatihan marketing communication bukan sekadar mencari program dengan materi paling banyak. Perusahaan perlu melihat apakah program tersebut:

  • relevan dengan tantangan bisnis;
  • didukung trainer yang kompeten;
  • memberikan kesempatan praktik;
  • membahas audiens, pesan, dan channel;
  • dapat dikaitkan dengan konteks perusahaan;
  • mendorong penerapan setelah training;
  • serta memiliki indikator keberhasilan yang jelas.

Pendekatan tersebut membantu perusahaan memilih program berdasarkan kualitas dan relevansinya, bukan hanya berdasarkan judul pelatihan. Di Amazing Plus, pengembangan kompetensi dapat dirancang dengan pendekatan yang menghubungkan communication skill, marketing, teamwork, dan kebutuhan dunia kerja. Dengan pendekatan yang aplikatif, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep, tetapi mampu membawa pembelajaran tersebut ke dalam aktivitas profesional mereka.

Jika perusahaan sedang mencari program pengembangan kompetensi untuk tim Sales & Marketing, pelatihan marketing communication dari Amazing Plus dapat menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan kemampuan tim dalam menyusun dan menyampaikan pesan secara lebih efektif.

Baca juga: 7 Rekomendasi Pelatihan Sales untuk Meningkatkan Performa Tim Penjualan

Share postingan ini:

Baca Insight & Wawasan Lainnya

teknik komunikasi dengan pelanggan

5 Teknik Komunikasi dengan Pelanggan via WhatsApp: Ubah “Centang Biru” Jadi Transferan

teknik komunikasi dengan pelanggan B2B

5 Strategi Jitu Teknik Komunikasi dengan Pelanggan B2B: Tembus Gatekeeper dan Cetak Closing Bernilai Tinggi!

teknik komunikasi dengan pelanggan amazingplus.id

Tinggalkan “Cari Apa, Kak?”: 4 Teknik Komunikasi dengan Pelanggan Skincare yang Bikin Closing Natural