Komunikasi asertif dan empati di tempat kerja membantu kita menyampaikan pendapat, kebutuhan, maupun keberatan tanpa harus merendahkan orang lain. Dengan komunikasi yang tepat, kita bisa tetap tegas mempertahankan batasan sekaligus menunjukkan bahwa kita memahami perasaan dan sudut pandang orang lain.
“Kalau saya ngomong terlalu halus, nanti orang menganggap saya lemah. Tapi kalau terlalu tegas, dibilang galak.” Siska mengatakannya kepada Maya setelah meeting marketing selesai.
Maya tersenyum. “Menurutmu, tegas itu harus keras?”
Siska menggeleng. “Tidak juga. Tapi saya sering bingung harus ngomong seperti apa.”
“Justru itu yang perlu kita pelajari,” jawab Maya. “Tegas dan kasar itu dua hal yang berbeda.”
Siska baru saja mengalami situasi yang cukup umum di tempat kerja. Salah satu anggota tim terlambat mengirim materi promosi. Deadline semakin dekat, sementara pekerjaan Siska ikut tertunda. Dalam hati ia kesal. Ia ingin mengatakan:
“Kamu selalu begini. Kalau memang tidak bisa kerja cepat, bilang dari awal.”
Tetapi ia tahu kalimat tersebut hanya akan membuat masalah semakin panjang. Akhirnya Siska berkata:
“Aku butuh materi ini hari ini supaya desain bisa masuk tahap berikutnya. Kalau ada kendala yang membuat kamu belum bisa menyelesaikannya, kabari aku sekarang supaya kita bisa cari solusi.”
Pesannya tetap tegas. Deadline tetap disampaikan. Kebutuhannya tetap jelas. Tetapi tidak ada serangan terhadap pribadi. Inilah salah satu contoh komunikasi asertif dan empati di tempat kerja. Kita menyampaikan apa yang kita butuhkan tanpa mengabaikan orang yang sedang kita ajak bicara.
Apa Itu Komunikasi Asertif dan Empati di Tempat Kerja?
Komunikasi asertif adalah kemampuan menyampaikan pikiran, perasaan, kebutuhan, atau batasan dengan jelas dan tegas tanpa merendahkan atau menyerang orang lain. Sementara empati membantu kita memahami bahwa orang lain juga memiliki perasaan, kebutuhan, tekanan, dan sudut pandang yang mungkin berbeda dari kita. Keduanya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Sehingga, komunikasi asertif dan empati di tempat kerja adalah kemampuan menyampaikan apa yang kita pikirkan, rasakan, butuhkan, atau tidak setujui secara jelas dan tegas, sambil tetap memahami serta menghargai perasaan dan sudut pandang orang lain.
Asertif tanpa empati bisa terdengar keras. Empati tanpa ketegasan bisa membuat kita sulit menetapkan batasan.
Karena itu, komunikasi yang sehat membutuhkan keduanya.
Maya menjelaskan kepada Siska, “Kamu tidak perlu memilih antara tegas atau baik. Kamu bisa melakukan keduanya.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi penerapannya membutuhkan latihan.
Bagaimana Cara Melakukan Komunikasi Asertif dan Empati di Tempat Kerja?
1. Sampaikan Masalah Tanpa Menyerang Pribadi
Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika sedang kesal adalah menyerang karakter seseorang. Misalnya: “Kamu memang tidak bisa diandalkan.” Padahal, masalah sebenarnya mungkin hanya satu pekerjaan yang terlambat.
Coba ubah menjadi: “Pekerjaan ini belum selesai sesuai deadline, sehingga pekerjaan berikutnya ikut tertunda. Apa kendala yang sedang kamu hadapi?”
Perbedaannya cukup besar.
Kalimat pertama menyerang identitas orang.
Kalimat kedua membahas situasi dan dampaknya.
Inilah dasar komunikasi asertif.
Kita tidak menghilangkan masalah. Kita justru membicarakannya dengan lebih jelas. Empati kemudian muncul ketika kita memberikan ruang bagi orang tersebut untuk menjelaskan.
Mungkin memang ada alasan yang tidak kita ketahui.
Mungkin bebannya terlalu banyak.
Mungkin ada informasi yang belum diterima.
Atau mungkin memang terjadi kesalahan.
Apa pun jawabannya, kita bisa membahasnya tanpa harus merendahkan.
2. Gunakan Kalimat “Saya”, Bukan Selalu “Kamu”
Perhatikan dua kalimat berikut:
“Kamu tidak pernah memberi informasi yang jelas.”
dan:
“Saya kesulitan menyelesaikan pekerjaan ketika informasinya belum lengkap.”
Kalimat kedua lebih berfokus pada pengalaman kita. Teknik seperti ini sering membantu dalam komunikasi asertif dan empati di tempat kerja karena mengurangi kesan menyalahkan.
Contoh lainnya:
Daripada: “Kamu bikin saya menunggu dari tadi.”
Coba: “Saya sudah menunggu informasi ini sejak pagi dan pekerjaan saya jadi tertunda. Kira-kira kapan saya bisa mendapatkannya?”
Pesannya tetap tegas. Namun, lawan bicara lebih mudah memahami masalah yang sedang kita hadapi.
3. Dengarkan Sebelum Memberikan Respons
Empati tidak berarti kita harus selalu setuju. Empati berarti kita berusaha memahami.
Misalnya, Doni datang kepada Pak Arif dan mengeluhkan beban pekerjaannya.
Respons yang terburu-buru: “Semua orang juga sibuk, Don.”
Respons yang lebih empatik: “Saya bisa memahami kalau beban pekerjaanmu sedang terasa berat. Bagian mana yang paling mendesak?”
Setelah itu, baru masalah bisa dibicarakan. Mendengarkan juga membantu kita menghindari kesimpulan yang salah.
Seseorang yang terlihat malas mungkin sebenarnya sedang kewalahan.
Seseorang yang diam mungkin sedang memproses informasi.
Seseorang yang menolak sebuah ide mungkin bukan menolak kita secara pribadi, tetapi memiliki pertimbangan yang belum kita ketahui.
Dalam komunikasi asertif, mendengarkan bukan berarti menyerahkan kendali. Kita tetap bisa menyampaikan pendapat setelah memahami sudut pandang orang lain.
4. Berani Mengatakan “Tidak” dengan Tetap Menghargai Orang Lain
Tidak semua permintaan harus kita terima. Tetapi banyak orang kesulitan mengatakan tidak karena takut dianggap tidak membantu. Akibatnya, kita mengatakan “iya” meskipun sebenarnya tidak sanggup. Beberapa hari kemudian pekerjaan menumpuk dan kita justru merasa kesal.
Komunikasi asertif membantu kita mengatakan tidak dengan jelas.
Misalnya: “Saya ingin membantu, tetapi saat ini saya sedang menyelesaikan laporan yang harus dikirim sore ini. Kalau tidak mendesak, saya bisa membantu besok pagi.”
Atau: “Saya belum bisa mengambil tugas itu sekarang karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan terlebih dahulu.”
Tidak perlu memberikan alasan panjang. Tidak perlu meminta maaf berkali-kali. Dan tidak perlu merasa bersalah karena memiliki batasan. Empati membuat kita tetap mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Ketegasan membuat kita tetap mempertimbangkan kapasitas diri sendiri.
Keduanya bisa berjalan bersama.
5. Sampaikan Kritik dengan Fokus pada Perbaikan
Kritik merupakan bagian dari pekerjaan. Namun, cara menyampaikan kritik sangat menentukan apakah seseorang akan mendengarkan atau justru menjadi defensif.
Bandingkan: “Presentasimu berantakan.”
dengan: “Informasinya sebenarnya sudah lengkap, tetapi urutan slide-nya masih membuat saya kesulitan mengikuti alurnya. Bagaimana kalau bagian data ini dipindahkan setelah penjelasan masalah?”
Kritik kedua tetap menunjukkan ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Tetapi sekaligus memberikan arah.
Inilah bentuk komunikasi yang tidak hanya mengatakan apa yang salah, tetapi juga membantu menemukan apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
Maya menyebutnya sebagai: “Tegas pada masalah, tetapi tetap menghargai orangnya.”
Prinsip ini sangat berguna dalam hubungan antara atasan dan bawahan maupun antaranggota tim.
6. Jangan Menunggu Sampai Emosi Meledak
Kadang-kadang masalah komunikasi bukan karena kita tidak tahu cara berbicara. Kita hanya menunggu terlalu lama.
Awalnya kita terganggu. Kemudian kita diam. Gangguan itu terjadi lagi. Kita diam lagi. Sampai akhirnya, hal kecil menjadi pemicu ledakan.
“Saya sudah berkali-kali bilang!”
Padahal orang lain mungkin tidak pernah benar-benar tahu bahwa kita sudah merasa terganggu selama berminggu-minggu. Komunikasi asertif mengajarkan kita menyampaikan masalah lebih awal, sebelum emosi menumpuk. Tidak perlu menunggu sampai kita benar-benar marah.
Misalnya:
“Saya ingin menyampaikan sesuatu sebelum menjadi masalah. Beberapa kali informasi perubahan jadwal saya terima cukup terlambat. Ke depan, bisa tolong informasikan kepada saya lebih awal?”
Kalimat seperti ini jauh lebih mudah dibicarakan daripada ledakan emosi setelah masalah terjadi berkali-kali.
7. Kenali Gaya Komunikasi Diri Sendiri dan Orang Lain
Setiap orang memiliki kecenderungan perilaku yang berbeda.
Ada orang yang langsung berbicara ke inti masalah.
Ada yang lebih suka membangun hubungan sebelum membahas pekerjaan.
Ada yang membutuhkan waktu untuk merasa nyaman.
Ada pula yang ingin melihat data dan detail sebelum mengambil keputusan.
Perbedaan tersebut bisa memengaruhi bagaimana sebuah pesan diterima.
Maya menjelaskan kepada Siska:
“Kalau kamu tahu bagaimana kecenderungan dirimu dan orang lain, kamu akan lebih mudah memilih cara menyampaikan pesan.”
Di sinilah pendekatan DISC dapat membantu. DISC mengenali empat kecenderungan gaya perilaku: D, I, S, dan C. Namun, tujuannya bukan untuk memberikan label kepada seseorang.
Bukan: “Dia C, berarti pasti sulit diajak bekerja sama.”
Melainkan: “Dia mungkin lebih nyaman dengan informasi yang terstruktur. Berarti saya bisa menyampaikan data dengan lebih lengkap.”
Atau: “Saya cenderung langsung ke inti. Mungkin saya perlu memperhatikan cara penyampaian agar tidak terdengar terlalu keras.”
Kesadaran seperti ini dapat menjadi langkah penting dalam membangun komunikasi yang lebih efektif.
Tegas Bukan Berarti Kasar
Pada akhirnya, komunikasi asertif dan empati di tempat kerja bukan tentang mencari kalimat yang selalu menyenangkan semua orang.
Ada kalanya kita tetap harus mengatakan tidak.
Ada kalanya kita perlu memberikan kritik.
Ada saatnya kita harus menetapkan batasan.
Bahkan, ada situasi ketika kita perlu menyampaikan ketidaksetujuan secara tegas. Yang membedakan adalah bagaimana kita menyampaikannya. Komunikasi asertif membuat kita mampu menyampaikan kebutuhan dan pendapat dengan jelas. Sementara empati membantu kita tetap mempertimbangkan perasaan dan sudut pandang orang lain. Karena itu, komunikasi asertif dan empati di tempat kerja bukan berarti kita harus selalu mengalah demi menjaga perasaan orang lain.
Sebaliknya, kita belajar untuk:
- tegas tanpa merendahkan,
- mengatakan tidak tanpa menyakiti,
- memberikan kritik tanpa menyerang,
- menetapkan batasan tanpa bersikap kasar,
- dan menyampaikan pendapat tanpa mengabaikan orang lain.
Tegas bukan berarti kasar.
Empati bukan berarti lemah.
Menghargai orang lain bukan berarti mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
Ketiganya bisa berjalan bersama.
Sudahkah Kamu Mengenali Cara Berkomunikasimu?
Setelah memahami komunikasi asertif dan empati di tempat kerja, coba tanyakan kepada diri sendiri:
- Ketika berada dalam situasi sulit, apakah kamu cenderung langsung mengatakan apa yang ada di pikiran?
- Atau justru memilih diam agar tidak terjadi konflik?
- Apakah kamu sering mengatakan “iya” meskipun sebenarnya ingin mengatakan “tidak”?
- Apakah kamu mudah merasa bersalah ketika menetapkan batasan?
- Atau mungkin kamu terlalu fokus pada hasil sampai lupa mempertimbangkan bagaimana pesanmu diterima orang lain?
Tidak ada gaya yang selalu lebih baik daripada gaya lainnya. Yang penting adalah mengetahui kecenderungan kita dan memahami kapan kita perlu menyesuaikannya. Pemahaman terhadap gaya perilaku dapat membantu kita melihat mengapa setiap orang bisa memberikan respons yang berbeda terhadap pesan yang sama.
Jika kamu ingin mengenali kecenderungan gaya perilakumu dengan lebih terstruktur, kamu bisa mencoba Asesmen DISC Amazing Plus secara gratis. Dengan mengenali diri sendiri, kita memiliki dasar yang lebih baik untuk membangun komunikasi asertif dan empati di tempat kerja, sekaligus memahami bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain.
👉 Kenali gaya perilakumu melalui Asesmen DISC Amazing Plus di sini.
Ubah Cara Bicaramu, Ubah Rezekimu
Mengenali gaya perilaku adalah satu langkah. Namun, komunikasi asertif dan empati di tempat kerja juga membutuhkan kemampuan untuk memilih kata-kata yang tepat. Sebab, terkadang masalah bukan terletak pada apa yang ingin kita sampaikan, tetapi bagaimana kita menyampaikannya. Kalimat yang sama bisa menghasilkan respons yang berbeda ketika disampaikan dengan cara berbeda.
Misalnya: “Kamu selalu bikin pekerjaan jadi lama.”
dibandingkan: “Saya membutuhkan bagian ini selesai hari ini supaya pekerjaan berikutnya bisa berjalan. Apakah ada kendala yang perlu kita selesaikan?”
Pesannya sama-sama menunjukkan adanya masalah. Tetapi kalimat kedua memberikan ruang untuk berdiskusi dan mencari solusi.
Inilah mengapa belajar komunikasi asertif dan empati di tempat kerja bukan hanya berguna untuk menghindari konflik. Kemampuan ini dapat membantu kita membangun hubungan yang lebih sehat dengan rekan kerja, atasan, bawahan, klien, maupun orang-orang yang berinteraksi dengan kita setiap hari.
Kalau kamu ingin belajar lebih jauh bagaimana menggunakan kata-kata dengan lebih sadar, menyampaikan maksud tanpa membuat orang lain merasa diserang, serta membangun komunikasi yang lebih baik, kamu bisa melanjutkannya melalui ebook Ubah Bicaramu, Ubah Rezekimu dari Amazing Plus secara gratis. Karena cara kita berbicara dapat memengaruhi bagaimana orang memahami kita, bagaimana hubungan terbentuk, dan bagaimana kesempatan datang kepada kita.
Belajar komunikasi asertif dan empati di tempat kerja bukan sekadar belajar berbicara lebih baik. Ini adalah proses belajar menggunakan kata-kata dengan lebih sadar.
👉 Pelajari Ebook Ubah Bicaramu, Ubah Rezekimu di sini.
Penutup
Komunikasi asertif dan empati di tempat kerja bukan keterampilan yang hanya digunakan ketika terjadi konflik. Ia diperlukan dalam interaksi sehari-hari: ketika memberikan tugas, menerima kritik, menyampaikan ide, menolak permintaan, memberikan feedback, meminta bantuan, bahkan ketika kita sedang tidak setuju dengan keputusan orang lain.
Kita tidak selalu bisa mengendalikan bagaimana orang lain berbicara kepada kita. Tetapi kita bisa memilih bagaimana kita merespons.
Kita bisa tetap tegas tanpa kasar.
Kita bisa tetap empati tanpa menjadi lemah.
Dan kita bisa menyampaikan apa yang kita butuhkan tanpa harus membuat orang lain merasa direndahkan.
Pada akhirnya, komunikasi asertif dan empati di tempat kerja bukan tentang menjadi orang yang selalu benar. Ini adalah tentang belajar menyampaikan kebenaran, kebutuhan, dan batasan dengan cara yang tetap menghargai manusia di depan kita.
Karena terkadang, satu perubahan kecil dalam cara kita berbicara bisa menghasilkan perubahan besar dalam cara orang lain merespons kita.



