Hidup Tak Sesuai Keinginan? Jangan-jangan Pikiran Anda Penyebabnya!

Pernah tidak Anda merasa sudah melakukan semuanya dengan benar, tetapi hidup rasanya seperti berputar di tempat? Rasanya sudah berusaha, tetapi hasil tak sebanding. Sudah sabar, eh malah dimanfaatkan. Sudah jadi pasangan yang pengertian, eh ditinggal juga demi yang lebih segar. Rasanya ingin menyalahkan dunia nggak, sih? Kayak, kenapa tak adil sekali, kenapa ini terjadi padaku, bukan orang lain?

Kalau pernah mengalaminya, mungkin masalahnya bukan sekadar keadaan. Bisa jadi, inilah saatnya melakukan reset mindset. Dalam proses pengembangan diri, cara kita memandang masalah sering kali lebih menentukan daripada masalah itu sendiri. Dengan mengubah pikiran dan mindset, kita bisa mulai melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.

Paradigma: Kacamata yang Membentuk Dunia Kita

Paradigma merupakan cara kita melihat dunia. Bisa dibilang, paradigma adalah semacam kacamata, yang bisa membantu kita melihat dunia dengan lebih jernih. Paradigma bukan sekedar opini atau sikap, tetapi kerangka berpikir yang diam-diam membentuk semua reaksi kita.

Contoh gampangnya: Anda melihat seseorang jutek di kantor, lalu berpikir dia sombong. Namun ternyata dia hanya sedang stress karena orang tuanya sakit. Paradigma yang keliru, bisa menyebabkan salah paham, salah sikap, bahkan bisa merusak hubungan.

Stephen R. Covey dalam buku 7 Habits bilang, “Cara kita melihat masalah seringkali adalah masalah itu sendiri,” saking besarnya pengaruh paradigma.

Prinsip: Fondasi, Bukan Sekedar Gaya

Anggapan masyarakat tentang kunci keberhasilan telah berubah dari masa ke masa. Banyak literatur yang membahas tentang mindset kesuksesan. Yang mengejutkan, ternyata sebagian besar -ya, Anda tidak salah baca- sebagian besar isi dari literatur tersebut ternyata dangkal. Literatur-literatur tersebut banyak membahas citra sosial (alias jaim -jaga image), teknik dan perbaikan instan, dengan segala macam plester dan obat yang seringkali tampak menyembuhkan untuk sementara waktu, membentuk pikiran semu, pengembangan diri jangka pendek, tetapi melupakan masalah kronis yang mendasar, membiarkannya tak tersentuh dan akhirnya membusuk, kemudian muncul kembali ke permukaan. Bukan sekali dua kali, tetapi berkali-kali.

amazingplus.id
Amazingplus.id Communication Skill Training

Beberapa cara yang disarankan bahkan manipulatif, seringkali menipu, mendorong orang untuk menggunakan teknik-teknik tertentu, menggiring pikiran, membelokkan mindset, untuk membuat orang lain menyukai mereka. Bisa berupa berpura-pura tertarik akan hobi orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari orang tersebut, atau menggunakan penampilan atau bahkan relasi kuasa untuk mengintimidasi jalan pikiran orang lain. Kebanyakan teknik hanya di permukaan saja, misalnya teknik mempengaruhi dengan cepat, strategi kekuasaan, keterampilan berkomunikasi serta sikap positif. Jika diterapkan pada hubungan keluarga atau pasangan, teknik ini dapat menyebabkan cinta bersyarat. Untuk memperbaiki kondisi ini, fokus ke karakter jauh lebih penting daripada apa yang terlihat di luar.

Stephen R. Covey membedakan dua hal tersebut dengan istilah:

  • Etika karakter, yaitu nilai dasar (jujur, sabar, tanggung jawab, integritas). Etika ini merupakan kebesaran primer, yaitu hal-hal mendasar yang merupakan fondasi karakter yang kuat.
  • Etika kepribadian, yaitu teknik yang bisa dipoles (kemampuan komunikasi, manajemen waktu, networking, citra diri yang meyakinkan). Etika ini merupakan kebesaran sekunder, yaitu segala hal yang terlihat dari luar.

Jika kita hanya mempercantik “kemasan” tanpa memperbaiki “isi”, pada akhirnya orang bakal menyadari juga siapa kita sebenarnya. Dan diri sendiri pasti capek kalau harus terus berpura-pura.

Perubahan dari Dalam ke Luar

Kalau kita mau sesuatu berubah, mulai dari diri sendiri.

Menunggu orang lain berubah, keburu kiamat nggak, sih?

Kita bukan tumbal keadaan, bukan juga tokoh figuran dalam hidup orang lain. Kita punya kendali atas sikap, mindset, pikiran dan keputusan kita sendiri.

Dengan mengubah paradigma diri sendiri, kita akan mulai melihat sesuatu apa adanya, bukan ada apanya. Kita akan mulai menyadari hal-hal yang sebelumnya tak disadari, melihat hal-hal yang sebelumnya tak terlihat, hingga akhirnya menyadari bahwa mengubah orang lain bukanlah tugas kita.

Jadi, saat hidup rasanya tak adil, sebelum menyalahkan semesta, mungkin kita perlu bertanya dulu:

AMAZINGPLUS.ID
Amazingplus.id Communication Skill Training

“Apa aku sudah melihatnya dengan jernih? Apakah pikiranku sudah terbuka?”

Jika Anda merasa selama ini merasa dunia terlalu berisik, mungkin yang Anda butuhkan bukan solusi baru, tapi cara pandang dan mindset baru.
Dan siapa tahu, begitu Anda mengubah cara melihat, Anda mulai merasa:

“Hidup ternyata nggak seberat itu, ya.”

Selamat mereset pikiran dan cara pandang.
Dunia sih, tetap sama. Tapi Anda yang baru, mungkin bisa mengubah segalanya.

Refleksi Kecil

Paradigma apa yang selama ini membatasi cara Anda melihat dunia?

Apa nilai yang sedang aku bangun?

Apakah Anda selama ini sibuk memperbaiki orang lain, padahal dalam diri sendiri ada yang perlu diperbaiki?

Sumber: The 7 Habits of Highly Effective People

Share postingan ini:

Baca Insight & Wawasan Lainnya