Cara menghadapi teman kerja yang toxic tidak selalu berarti harus menjauh atau membalas perilaku mereka. Di tempat kerja, kita mungkin tidak bisa memilih dengan siapa harus bekerja. Karena itu, yang lebih penting adalah mengetahui cara menjaga batasan, berkomunikasi secara profesional, dan melindungi diri agar perilaku orang lain tidak ikut memengaruhi cara kita bekerja.
“Kalau saya terus satu tim dengan dia, rasanya capek, Bu.” Dimas mengatakannya kepada Maya setelah jam makan siang.
Maya menutup laptopnya. “Capek karena pekerjaannya atau karena orangnya?”
“Orangnya.”
Dimas kemudian bercerita tentang salah satu rekan kerjanya yang sering menyalahkan orang lain ketika terjadi masalah. Ketika ada keberhasilan, ia segera mengakui sebagai hasil kerjanya. Ketika ada kesalahan, ia mencari orang yang bisa disalahkan.
“Kadang saya sampai bingung. Kalau saya diam, dibilang tidak peduli. Kalau saya bicara, dibilang melawan.”
Maya mendengarkan sampai selesai. “Menurutmu, apa yang paling menguras energimu?”
Dimas berpikir sebentar. “Mungkin karena saya terus memikirkan apa yang dia katakan.”
Maya mengangguk. “Berarti selain menghadapi perilakunya, kamu juga perlu belajar mengendalikan responsmu sendiri.”
Kalimat itu membuat Dimas terdiam.
Ketika berhadapan dengan orang yang sulit, kita sering terlalu fokus mencari cara mengubah mereka. Padahal, kita tidak selalu bisa mengubah perilaku orang lain.
Yang bisa kita kendalikan adalah batasan, komunikasi, respons, dan keputusan kita sendiri.
Apa yang Dimaksud dengan Teman Kerja Toxic?
Istilah toxic sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang membuat lingkungan di sekitarnya terasa tidak sehat. Namun, jangan buru-buru memberi label hanya karena seseorang pernah bersikap menyebalkan.
Satu kali seseorang marah, melakukan kesalahan, mengkritik pekerjaan, atau sedang berada dalam suasana hati yang buruk belum tentu berarti ia toxic.
Yang perlu diperhatikan adalah pola perilakunya.
Misalnya, seseorang berulang kali:
- merendahkan rekan kerja,
- menyalahkan orang lain atas kesalahannya,
- memanipulasi situasi,
- menyebarkan gosip,
- mengambil pujian atas pekerjaan orang lain,
- sengaja menghambat pekerjaan,
- membuat orang lain takut menyampaikan pendapat,
- atau terus-menerus menciptakan konflik.
Jika pola tersebut terjadi berulang dan mulai memengaruhi pekerjaan maupun hubungan dalam tim, situasinya perlu ditangani dengan serius.
Lalu, bagaimana cara menghadapi teman kerja yang toxic?
Berikut tujuh cara menghadapi teman kerja yang toxic yang dapat dicoba:
1. Jangan Langsung Membalas Perilakunya
Ketika seseorang berbicara dengan kasar kepada kita, respons pertama yang muncul mungkin adalah membalas.
Dia menyindir → kita menyindir balik.
Dia meninggikan suara → kita ikut meninggikan suara.
Dia menyalahkan kita → kita mencari kesalahannya.
Masalahnya, pola tersebut hanya membuat konflik semakin besar.
Salah satu cara menghadapi teman kerja yang toxic adalah berhenti sejenak sebelum memberikan respons.
Tanyakan: “Apa respons yang paling membantu menyelesaikan masalah ini?”
Bukan: “Bagaimana caranya supaya dia kalah?”
Perbedaan tujuan tersebut akan menghasilkan cara berkomunikasi yang berbeda. Kita tidak harus memenangkan setiap percakapan. Kadang, keberhasilan komunikasi justru terlihat ketika masalah tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
2. Pisahkan Fakta dari Emosi
Orang yang sulit dihadapi dapat membuat kita merasa marah, frustrasi, atau tidak dihargai. Perasaan tersebut valid. Namun, ketika masalah sudah menyangkut pekerjaan, usahakan tetap memisahkan apa yang kita rasakan dari apa yang benar-benar terjadi.
Misalnya: “Dia sengaja menjatuhkan saya di meeting.”
Cobalah ubah menjadi: “Dalam meeting tadi, dia mengatakan bahwa laporan tersebut terlambat karena saya, padahal saya sudah mengirimkannya sehari sebelumnya.”
Kalimat kedua lebih objektif. Ini penting karena jika masalah harus dibicarakan dengan atasan atau HR, kita akan lebih mudah menjelaskan kejadian berdasarkan fakta.
Jadi, cara menghadapi teman kerja yang toxic bukan hanya soal menjadi lebih kuat secara emosional, tetapi juga belajar melihat situasi dengan kepala dingin.
3. Buat Batasan yang Jelas
Batasan bukan berarti bermusuhan. Batasan berarti menentukan perilaku apa yang dapat kita terima dan apa yang tidak.
Misalnya, jika seorang rekan kerja terus menghubungi kita di luar jam kerja untuk hal yang sebenarnya tidak mendesak, kita dapat mengatakan: “Kalau tidak mendesak, saya akan lanjutkan besok pagi ketika jam kerja dimulai.”
Atau jika seseorang berbicara dengan nada merendahkan: “Saya bersedia membahas masalahnya, tetapi saya ingin kita membicarakannya tanpa saling menyerang.”
Kalimat seperti ini memang membutuhkan keberanian. Tetapi semakin jelas batasan yang kita komunikasikan, semakin mudah bagi orang lain mengetahui bagaimana kita ingin diperlakukan.
4. Gunakan Komunikasi yang Tegas, Bukan Agresif
Maya sering mengingatkan tim bahwa tegas tidak sama dengan kasar.
Ada perbedaan antara: “Kamu jangan seenaknya menyalahkan saya!”
dengan: “Saya ingin meluruskan informasi tersebut. Bagian itu sudah saya kirim pada hari Selasa. Kalau ada data yang belum diterima, mari kita cek bersama.”
Kalimat kedua tetap tegas. Tetapi fokusnya adalah menyelesaikan masalah, bukan menyerang pribadi.
Ini salah satu keterampilan penting dalam cara menghadapi teman kerja yang toxic.
Kita tidak harus menjadi pasif hanya supaya terlihat baik. Kita juga tidak perlu menjadi agresif agar terlihat kuat. Kita bisa tegas sekaligus profesional.
5. Jangan Berikan Terlalu Banyak Ruang untuk Drama
Tidak semua komentar perlu dijawab.
Tidak semua provokasi perlu diladeni.
Tidak semua gosip perlu diikuti.
Jika seseorang mencoba mengajak kita membicarakan keburukan rekan kerja lain, misalnya, kita bisa mengalihkan pembicaraan: “Kalau masalahnya berkaitan dengan pekerjaan, mungkin lebih baik kita bahas langsung dengan yang bersangkutan.”
Kita tidak perlu ikut masuk ke dalam konflik yang sebenarnya bukan milik kita.
Begitu juga dengan komunikasi sehari-hari.
Jika pekerjaan dapat disampaikan melalui email atau chat yang jelas, gunakan media tersebut untuk mengurangi kesalahpahaman dan menjaga dokumentasi. Cara menghadapi teman kerja yang toxic terkadang justru dilakukan dengan mengurangi bahan yang dapat digunakan untuk memperpanjang konflik.
6. Dokumentasikan Jika Perilakunya Sudah Mengganggu Pekerjaan
Ini bagian yang tidak boleh dilewatkan. Kalau perilaku seseorang sudah berulang dan berdampak terhadap pekerjaan, simpan dokumentasi yang relevan. Misalnya:
- email,
- pesan kerja,
- instruksi,
- perubahan tugas,
- hasil pekerjaan,
- atau catatan kejadian penting.
Bukan untuk mencari-cari kesalahan.
Dokumentasi berguna jika suatu saat kita perlu menjelaskan situasi secara objektif kepada atasan atau pihak yang berwenang.
Misalnya Dimas dituduh tidak menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Daripada menjawab: “Dia memang selalu menyalahkan saya!”
Dimas bisa menunjukkan: “Instruksi pekerjaan saya terima hari Senin pukul 10.00 dan hasilnya saya kirim Selasa pukul 15.00. Ini bukti komunikasinya.”
Fakta akan jauh lebih membantu daripada saling melempar tuduhan.
7. Kenali Gaya Perilaku, tetapi Jangan Membenarkan Perilaku Toxic
Di sinilah kita bisa melihat situasi dari perspektif yang berbeda.
Tidak semua perilaku yang membuat kita tidak nyaman berarti seseorang memiliki niat buruk.
Ada orang yang sangat langsung.
Ada yang sangat kritis.
Ada yang banyak bicara.
Ada yang sangat berhati-hati.
Ada yang membutuhkan waktu untuk mengambil keputusan.

Perbedaan kecenderungan perilaku dapat memengaruhi cara seseorang berkomunikasi.
Salah satu pendekatan yang dapat membantu memahami kecenderungan tersebut adalah DISC.
Misalnya, orang yang sangat berorientasi pada hasil mungkin terlihat terlalu langsung bagi orang yang membutuhkan pendekatan lebih tenang.
Orang yang sangat teliti mungkin terlihat terlalu banyak bertanya bagi orang yang ingin semuanya segera selesai.
Memahami perbedaan ini dapat membantu kita menyesuaikan komunikasi. Tetapi ada batas yang penting. DISC bukan alasan untuk membenarkan perilaku toxic.
Orang yang kasar tidak bisa mengatakan: “Saya memang seperti ini karena saya tipe D.”
Orang yang suka memanipulasi tidak bisa menggunakan tipe kepribadian sebagai pembenaran.
Gaya perilaku menjelaskan kecenderungan, bukan membenarkan perilaku buruk.
Bisa Jadi yang Perlu Diubah Bukan Orangnya, tetapi Cara Kita Merespons
Setelah beberapa minggu, Dimas kembali berbicara dengan Maya. “Saya sekarang tidak terlalu kepikiran lagi kalau dia mulai menyalahkan saya.”
“Kenapa?”
“Saya mulai pisahkan mana yang memang perlu saya respons dan mana yang tidak.”
Maya tersenyum. “Bagus. Kamu tidak bisa menentukan apa yang dia katakan. Tapi kamu bisa menentukan apa yang kamu lakukan setelah mendengarnya.”
Itulah salah satu pelajaran penting dari cara menghadapi teman kerja yang toxic.
Kita tidak selalu punya kekuatan untuk mengubah orang lain. Tetapi kita punya kendali atas: respons kita, batasan kita, cara kita berbicara, dan keputusan kita. Dan semakin kita mengenali diri sendiri, semakin mudah bagi kita menentukan respons yang sesuai.
Apakah Semua Masalah dengan Teman Kerja Harus Ditoleransi?
Tidak.
Menjadi profesional bukan berarti membiarkan diri terus-menerus diperlakukan buruk.
Jika perilaku rekan kerja sudah berupa intimidasi, pelecehan, ancaman, diskriminasi, atau tindakan serius lain yang mengganggu keamanan dan pekerjaan, jangan merasa harus menyelesaikannya sendirian.
Gunakan jalur resmi yang tersedia di perusahaan.
Bicarakan dengan atasan, HR, atau pihak yang memang memiliki kewenangan untuk menangani masalah tersebut.
Ada perbedaan antara perbedaan gaya komunikasi dengan perilaku yang merugikan.
Yang pertama dapat membutuhkan penyesuaian. Yang kedua mungkin membutuhkan tindakan formal.
Sudahkah Kamu Mengenali Gaya Perilakumu Sendiri?
Menariknya, ketika menghadapi orang yang sulit, kita sering sangat sibuk menganalisis orang tersebut.
“Dia kenapa, sih?”
“Kenapa dia selalu seperti itu?”
“Kenapa dia tidak bisa diajak bicara?”
Padahal, pertanyaan yang juga penting adalah: “Bagaimana saya sendiri ketika menghadapi tekanan dan konflik?”
Apakah kita cenderung langsung melawan?
Apakah kita memilih diam?
Apakah kita terlalu berusaha menyenangkan orang lain?
Apakah kita menghindari konflik?
Apakah kita membutuhkan data sebelum merespons?
Atau apakah kita cenderung mengambil keputusan dengan cepat?
Mengenali kecenderungan diri dapat membantu kita memahami mengapa kita merespons orang tertentu dengan cara tertentu.
Jika kamu ingin mengenali kecenderungan gaya perilakumu dengan lebih terstruktur, kamu bisa mencoba Asesmen DISC Amazing Plus dengan gratis.
Bukan untuk menentukan apakah kamu orang baik atau buruk.
Bukan untuk mencari siapa yang toxic.
Tetapi untuk memahami diri sendiri dan menemukan cara berkomunikasi serta bekerja sama yang lebih efektif.
Kenali gaya perilakumu melalui Asesmen DISC Amazing Plus di sini.
Ubah Cara Bicaramu, Ubah Cara Kamu Menghadapi Situasi
Mengenali gaya perilaku adalah satu langkah.
Langkah berikutnya adalah belajar menggunakan kata-kata dengan lebih sadar. Sebab, mengetahui bahwa orang lain memiliki karakter dan kecenderungan yang berbeda tidak otomatis membuat komunikasi menjadi lebih baik. Kita tetap perlu belajar bagaimana:
- menyampaikan keberatan tanpa menyerang,
- memberikan kritik tanpa merendahkan,
- mengatakan tidak tanpa merasa bersalah,
- menetapkan batasan tanpa bersikap kasar,
- dan menyampaikan kebutuhan tanpa membuat orang lain merasa disalahkan.
Pada akhirnya, cara menghadapi teman kerja yang toxic juga sangat berkaitan dengan bagaimana kita memilih kata-kata.
Bandingkan: “Kamu memang selalu bikin masalah.”
dengan: “Saya ingin kita fokus pada masalah yang sedang terjadi dan mencari solusinya.”
Pesannya sama-sama menunjukkan ketidaksetujuan. Tetapi dampaknya berbeda.
Kalau kamu ingin belajar lebih jauh bagaimana mengubah cara berbicara agar komunikasi dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari menjadi lebih baik, kamu bisa melanjutkannya melalui ebook Ubah Bicaramu, Ubah Rezekimu dari Amazing Plus yagn bisa diunduh secara gratis. Karena terkadang, perubahan tidak dimulai dari kemampuan mengubah orang lain. Perubahan dimulai ketika kita belajar mengubah cara kita merespons, memilih kata, dan berkomunikasi.
👉 Pelajari Ebook Ubah Bicaramu, Ubah Rezekimu di sini.
Kesimpulan
Cara menghadapi teman kerja yang toxic memang tidak selalu mudah. Kita mungkin tidak bisa membuat mereka berubah. Kita juga tidak perlu memaksakan diri untuk menyukai atau disukai oleh semua orang.
Yang bisa kita lakukan adalah menjaga profesionalitas, membuat batasan, menggunakan komunikasi yang tegas, mendokumentasikan masalah yang serius, dan memahami kapan sebuah konflik masih bisa diselesaikan secara interpersonal dan kapan membutuhkan bantuan pihak lain.
Dan yang paling penting, jangan sampai perilaku orang lain membuat kita berubah menjadi orang yang sebenarnya tidak ingin kita menjadi. Karena lingkungan kerja yang sehat bukan berarti kita bekerja dengan orang-orang yang selalu sepemikiran.
Lingkungan kerja yang sehat adalah ketika perbedaan dapat dikelola dengan komunikasi, batasan, dan rasa saling menghormati.



